Balanting Paring: Mengarung Seru di Aliran Sungai Amandit yang Menghijau Lebat

Negeri kita dianugerahi begitu banyak aliran sungai membelah pegunungan dan hutan tropis lebat yang mengagumkan. Wisata pengarungan sungai menjadi salah satu aktivitas yang sangat disukai para pemacu adrenalin. Umumnya yang banyak dilakukan adalah dengan perahu karet atau disebut dengan rafting atau bisa juga pengarungan tunggal dengan ban bekas yang disebut tubing. Nah, ada cara lain menikmati serunya menjajal deras arus sungai yang unik dan menyenangkan, yaitu menggunakan rakit bambu atau disebut balanting paring.

Bamboo Rafting atau dalam bahasa lokal disebut balanting paring dapat Anda nikmati di Sungai Amandit yang menghijau lebat di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Kegiatan seru tersebut adalah menaiki sebuah rakit bambu yang biasanya berjumlah 16 batang berukuran panjang 5 meter dan lebar 1 meter. Selama pengarungan disajikan keindahan Pegunungan Meratus yang mengapit Sungai Amandit. Mengarungi sungai dengan rakit bambu menyuguhkan tantangan seru bukan hanya jeram dan bebatuan sepanjang sungai yang bisa membuat rakit miring atau terbalik. Anda juga harus mampu menjaga keseimbangan rakit bambu tatkala berbelok atau membentur batu kali dibalik aliran sungai.

Setiap rakit bambu berisi maksimal 3 orang ditambah seorang pemandu berpengalaman yang akan mendayung rakit menggunakan sebilah bambu. Pengarungan di Sungai Amandit yang berkedalaman dua meter tersebut memakan waktu 2 hingga 3 jam yang dimulai dimulai dari Desa Loksado menuju Bumi Perkemahan Kantawan sejauh 12 km. Dari jarak tempuh tersebut tidak semuanya berarus deras. Di beberapa bagian arus justru sangat kecil dan air dangkat sehingga rakit bambu sulit untuk bergerak. Jangan khawatir, sang joki atau pemandu akan menanganinya dan Anda dapat menikmati lebatnya pemandangan Pegunungan Meratus.

Kegiatan atraksi balanting paring diawali dari kebiasaan penduduk setempat saat menjual bambu menuju kota. Minimnya alat transportasi untuk membawa bambu membuat warga memanfaatkan rakit bambu untuk mengangkut batangan bambu tersebut. Bambu hasil panenan sebanyak 50 sampai 70 batang dalam satu ikatan akan diangkut menggunakan rakit bambu melalui Sungai Amandit menuju Kota kandangan.

Selain membawa bambu untuk dijual di kota, warga juga membawa hasil bumi lainnya yang bisa mereka jual. Seperti karet atau kayu manis yang mereka tumpuk di atas bambu. Waktu yang mereka pilih adalah di saat air Sungai Amandit pasang sehingga mereka tidak banyak menjumpai halangan bebatuan di sepanjang sungai. Jika waktu tempuh di darat hanya sekitar dua jam maka dengan mengarungi sungai Amandit membutuhkan dua hari perjalanan.

Tersedia beberapa paket untuk menikmati aktraksi balanting paring. Rute Loksado – Tanuhi biasanya seharga Rp200.000,-. Ada juga rute Loksado – Muara Hatip sebesar Rp300.000,-. Bahkan, tersedia sensasi perjalanan dua hari seperti yang dilakukan warga lokal (petani bambu), yaitu Loksado – Kandangan dengan waktu tempuh dua hari dan hanya berlaku di Desember saat debit air Sungai Amandit meningkat drastis.

Untuk menuju Loksado yang berada 175 km dari Banjarmasin manfaatkan kendaraan sewaan atau angkutan umum menuju Kandangan, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dengan biayanya 35 ribu rupiah. Perjalanan dari Banjarmasin ke Kandangan sekira 4 jam. Berikutnya dari Kandangan ke Loksado memakan waktu 1 jam.

Video via: VisitKalsel

 

Powered by pesona.indonesia.travel