Pasola: Kuda Sumba, Lembing Kayu, dan Tragedi Cinta Segi Tiga

"Kuda sumba yang berbadan kecil namun kuat berotot meringkik bersama kawanannya di padang sabana Pulau Sumba. Gemuruh kaki hewan lincah itu menerbangkan butiran debu ke udara memicu ketegangan yang meruah saat lembing-lembing dilemparkan penunggangnya berterbangan melesat ganas hingga sanggup menghentikan helaan nafas penonton. Teriakan riuh rendah penyemangat pun bersahutan dalam pesta adat menyambut masa tanam di ladangnya orang Sumba".

Pasola Sumba-1653Pulau Sumba adalah tempat untuk melengkapi sisi naluriah seorang jiwa petualang. Pulau ini melukiskan warna-warna yang tak umum didapatkan saat ditangkap lensa kamera dengan banyaknya rumah adat tradisional dan kubur batu. Kepercayaan Marapu atau animisme kuno melengkapi tradisi perang berkuda paling mengagumkan di negeri ini, yaitu Pasola. Menginjakkan kaki di Pulau Sumba adalah cita-cita yang harus dilakukan selama Anda masih sempat berpetualang di negeri indah ini, Nusantara.

Waktu sempurna untuk berpetualang ke pulau ini adalah bulan Februari hingga Maret. Saat itu Pasola digelar di beberapa wilayah utamanya adalah: Kodi, Lamboya dan Wanakoka. Pasola digelar enam hari setelah bulan purnama saat Februari dan Maret di Kodi Bangedo dan Kodi Balaghar. Sulit menentukan waktu pasti perhelatan acara ini karena Pasola sejatinya bukan hanya hiburan semata namun juga ritual adat agama Marapu. Hari jatuhnya keberkahan acara adat itu hanya bisa ditentukan seorang tetua adat yang disebut rato.

Pasola bukan sekadar pemainan adat belaka namun ini telah tertanam jauh dalam budaya orang Sumba. Pasola berasal dari kata sola atau hola yang bermakna lembing kayu dalam bahasa lokalnya. Berikutnya pelafalan kata tersebut dibubuhi awalan menjadi pasola sehingga makna pun berubah menjadi permainan demi perekat jalinan persaudaraan.

Pasola dimaknai orang Sumba sendiri sebagai perang damai dalam sebuah ritual adat (baca: bukan perang-perangan). Sungguh pun demikian acap kali memakan korban, pasola tetap berpacu di tanah Sumba sebagai permainan penawar duka, duka seorang leluhur atas hilangnya belahan jiwa. Hal itu diawali dari legenda masyarakat Sumba.

Konon, seorang pemuka adat bernama Umbu Dulla dari Waiwuang dari Sumba Barat, berkelana dengan dua pemuka adat lainnya, Ngongo Tau Masusu dan Yagi Waikareri. Meninggalkan istrinya Rabu Kaba untuk beberapa lama, Umbu Dulla dikabarkan tewas tenggelam di laut ganas. Kesedihan melanda Rabu Kaba, hingga suatu hari seorang pria bernama Teda Gaiparona dari Kodi, semenanjung barat Pulau Sumba, mencairkan cinta Rabu Kaba yang lama membeku. Keduanya dilanda asmara dan berniat untuk menikah.

Sayangnya, pihak keluarga dari keduanya tak merestui. Maka Rabu Kaba dan Teda pergi untuk kawin lari. Hari berganti minggu hingga datanglah Umbu Dulla dengan dua kawannya dari perantauan, menggugurkan kabar burung kematian mereka. Kengerian warga tak sebanding dengan kesedihan Umbu Dulla yang dipaksa keadaan bahwa istrinya telah lari bersama Teda. Tapi Umbu Dulla tak murka walau permintaan agar Rabu Kaba kembali tak dihormati.

Tekanan batin Rabu Kaba yang jelita semakin memuncak, dihimpit cinta terhadap Teda dan kisahnya sebagai istri Umbu Dulla yang tak berujung kepastian. Dilema ini akhirnya ditutup dengan permintaan Rabu Kaba kepada Teda untuk mengganti belis, persembahan keluarga Umbu Dulla dulu saat melamar. Menyanggupi belis yang harus diganti, Teda akhirnya direstui untuk menikah secara sah dengan Rabu Kaba oleh masyarakat dan khususnya Umbu Dulla.

Pasola Wanokaka_Him_IMG_1202

Untuk menghalau kesedihan, Umbu Dulla memerintahkan diadakannya pesta yang sekarang dikenal dengan Pasola, perayaan rasa sukur terhadap panen yang melimpah setelah melalui penangkapan nyale, cacing laut yang selalu mengundang ceria dan syukur pada masyarakat Nusa Tenggara. Pasola sejak hari itu menjadi tradisi dan sebuah agenda lanjutan dari pesta bau nyale, mencari cacing laut yang sebenarnya melambangkan pelipur lara kehilangan seorang kekasih hati Umbu Dulla, yaitu Rabu Kaba.

Pulau Sumba berdekatan dengan Pulau Komodo, Flores, dan juga Timor. Gunung paling tinggi di pulau ini yaitu Wangameti (1.225 m) menyajikan kisah kayu cendana yang dihargai oleh para pedagang dan pemeluk agama berbeda. Umat Hindu dan Buddha dari negeri China dan Jepang memanfaatkannya untuk dupa yang wangi semerbak serta pengobatan pengganti antibiotik. Umat Islam menjadikan kayunya sebagai bulir tasbih yang menawan.

Articles

Find More  

Atambua Adventure Off Road 2017: Promosikan Belu di Perbatasan Timor

Atambua Adventure Off Road 2017 merupakan event internasional yang pertama di tanah Timor, setelah daerah ini menjadi tuan rumah event-event offroad nasional yang rutin diselenggarakan dua tahun sekali. Tercatat ada lebih dari 50 peserta yang akan berpartisipasi. Mereka berasal dari Kota Kupang (30 peserta), Kabupaten Timor Tengah Selatan (5 peserta), Kabupaten Timor Tengah Utara (5 peserta), Timor Leste (7 peserta) …

Continue reading  

Calendar of Event Wakatobi “Bersinar Wakatobi Melala”

Event yang akan berlangsung di sepanjang tahun ini adalah HUT Masyarakat Kecamatan Wangi-Wangi Selatan (15-20 April), Wowine Festival (17-20 Mei), Festival Pulau Tomia (28-30 Juni) dan Kunjungan Kapal Pesiar “Celedonian Sky” (13 Juli 2017) yang menunjukkan Wakatobi sebagai jalur wisata cruise. Selanjutnya di bulan Agustus, Wakatobi diramaikan dengan Wonderful Sail 2017 (10-13 Agustus). Ini adalah kegiatan sail yang sudah diselenggarakan …

Continue reading  

Color KasmaRUN 2017: Berlari Mencari Cinta di Pulau Bintan

Bintan Resort Cakrawala (BRC) bekerja sama dengan Pemerintah Kabuapten Bintan dan Kementerian Pariwisata menggelar sebuah acara menarik di Pulau Bintan bertajuk Color KasmaRUN 2017. Acara tersebut dihelat di Areal Lagoi Bay, Kawasan Pariwisata Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong. Bintan Color Kasmarun digelar Sabtu (22/4) menghadirkan acara seru dan unik karena menggabungkan sport tourism dengan ajang pencarian jodoh. Color KasmaRUN 2017 menjadi bentuk komitmen …

Continue reading  

Powered by themekiller.com