Morotai Berbenah jadi Wisata Kelas Dunia

Pulau Morotai di Kepulauan Halmahera, Maluku Utara terus mempersiapkan diri sebagai salah satu dari 10 Destinasi Prioritas Pariwisata Indonesia. Salah satu persiapan tersebut adalah dengan meningkatkan aksesibilitas udara, laut, dan darat, untuk mempermudah wisman yang akan datang berkunjung ke Morotai.

Sejak 2014, lewat PP No 50 tahun 2014, Pemerintah menetapkan Pulau Morotai sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata. Akan ada pembangunan di lahan seluas 1.101,76 hektar  yang dikerjakan PT Jababeka Morotai. Pemerintah akan mengucurkan investasi Rp 6,8 triliun untuk membangun infrastruktur, salah satunya bandara.

Arah untuk menjadikan Morotai sebagai destinasi wisata kelas dunia akan didukung dengan bandara sepanjang 3.000 meter. Runway di bandara Morotai jumlahnya mencapai tujuh buah dan ke depan akan ada peluasan ruang tunggu penumpang, penambahan listrik, AC, SDM dan imigrasi. Saat ini baru maskapai Wings Air yang mengoperasikan pesawat ATR-72 berkapasitas 70 kursi dengan durasi tujuh kali sepekan. Sementara itu, Citilink mendaratkan pesawat berbadan besar yang membuat Morotai kembali terbuka.

Pokja 10 Destinasi Prioritas Kemenpar PIC Morotai, Ari Surhendro mengutarakan bahwa dalam mempersiapkan bandara Morotai menjadi bandara internasional maka dilakukan peningkatan bandara dari sisi udara dan darat. Critical issue-nya ada penerbangan regular ke Morotai

“Sejak 2016 sudah ada satu kali penerbangan per minggu dari Ternate dan kini jadwal penerbangan menjadi dua kali per hari, dari Ternate dan Manado menuju Morotai”.

Masih peningkatan akses udara, menurut detail engineering design perluasan bandara Morotai 1.840 meter persegi sudah selesai, dan semuanya kini dalam proses lelang.

“Sedangkan untuk akses darat, program jalan lingkar luar Morotai yang sebagian kecil terputus belum diaspal, saat ini dalam tahap perencanaan,” tambahnya.

Selain itu, paling lambat tahun 2019 Morotai sudah mempunyai international chain hotel, di samping amenitas lainnya yang bekerjasama dengan sejumlah pihak terkait.

“Amenitas adalah prasarana umum (listrik, air/limbah, telekomunikasi), fasilitas umum (perbankan, rumah sakit, polisi pariwisata, toilet, parker), dan fasilitas pariwisata (akomodasi, restoran, TIS, papan informasi & souvenir),” ungkapnya.

Demi mempercepat pembangunan amenitas, usulan addendum KEK seluas 640 ha di Tanjung Dehegila untuk pariwisata juga sudah diajukan. Begitupun dengan rencana investasi Rp20 Triliun dari Wanda Group akan segera dimatangkan minggu ini.

Pulau Morotai sangat strategis, berada di antara jalur pelayaran Asia dan Australia dan juga sebagai gerbang di Pasifik yang berdekatan dengan negara-negara penting di kawasan Asia Pasifik. Pulau ini di utara diapit di antara Jepang – Korea – Taiwan – Philipina – Tiongkok. Di barat, ada Singapura dan negara-negara ASEAN. Di selatan, ada Australia – New Zealand. Sementara itu, di timur, ada Republik Kep Palau serta negara-negara kepulauan di Pasifik.

Selain wisata bahari, Pulau Morotai memiliki potensi wisata sejarah karena dahulu pernah menjadi lokasi pertempuran dalam Perang Dunia II antara Sekutu dengan Jepang. Hingga saat ini di wilayah perairan Morotai masih tersimpan sisa kapal perang seperti di Pulau Dodola, Pulau Kolorai, dan Mitita yang menjadi spot diving menarik. Setidaknya ada 24 pulau kecil yang akan dikembangkan dan 19 di antaranya adalah lokasi diving. Ada juga daya tarik wisata budaya di Pulau Zum Zum, Tugu Trikora dan Desa Gotalamo.

Pemerintah juga akan mengembangkan desa wisata di Morotai guna menjaga tradisi dan kebudayaan luhur masyarakat setempat agar tidak tergerus dengan meningkatnya jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Morotai. Dari aspek lingkungan juga tengah diperhatikan pemerintah. Industri perkapalan yang dibangun dijamin tidak membahayakan lingkungan akibat pembuangan polutan.

Saat ini PT Morotai Jababeka selaku pengembang kawasan Morotai tengah bekerja sama dengan Taiwan untuk mengembangkan industri pertanian, perikanan, dan perdagangan. Jababeka akan menggelontorkan dana mencapai Rp 6,8 triliun dimana sumber selain internal juga dari investor. Jababeka juga ikut mengundang pengusaha-pengusaha Taiwan untuk berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur pariwisata bernilai triliunan rupiah.

Kepala Perwakilan Perdagangan dan Ekonomi Taipei di Indonesia (TETO), Andrew Hsia mengatakan bahwa pihaknya akan terus menindaklanjuti kesepakatan pengembangan Pulau Morotai dengan berbagai pihak di Indonesia.

“Perusahaan-perusahaan Taiwan siap membantu mengembangkan budi daya ikan, pertanian, turisme dan industri perbankan. Saya perkirakan, orang akan pindah dari mana-mana ke Morotai untuk bekerja di bidang perikanan, eko-turisme dan infrastruktur,” terangnya.

PT Morotai Jababeka akan membangun amenitas dan atraksi di areal seluas 1.200 hektare (ha) yang sudah berstatus KEK–Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata itu. Pengembangan bisnis di kawasan tersebut akan dilakukan secara bertahap.

Tahap awal, Jababeka akan membangun 10.000 rumah dengan sasaran kelas menengah, dan hotel yang terdiri dari 10.000 kamar. Selanjutnya, perusahaan tersebut akan membangun tempat pariwisata, sekolah untuk mensupplay SDM di sana.

 

Leave a Reply

Powered by themekiller.com